Page 5
Hujan turun sejak sore, mengguyur aspal jalanan dan merintik di kaca jendela bus yang kupandangi sejak tadi. Jam di tanganku menunjukkan pukul 22.37, terlalu malam untuk perjalanan pulang dari kampus ke rumah. Tapi dosen tak peduli—dia memperpanjang kelas hingga larut demi menyelesaikan materi UAS.
Aku turun di halte terakhir. Di sekeliling, hanya ada lampu jalan yang temaram dan suara kodok bersahutan dari sawah belakang. Jalan ke rumahku harus melewati sebuah lorong kecil—biasa saja di siang hari, tapi jadi mimpi buruk saat malam begini.
Lorong itu sempit, panjang, dan dipagari tembok tua tinggi menjulang. Tidak ada penerangan, hanya cahaya rembulan yang sesekali menembus celah dedaunan. Orang-orang menyebut lorong itu "Lorong Pulang" karena hampir semua anak kampung lewat situ untuk sampai ke rumah. Tapi malam ini, lorong itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak biasa.
Langkahku mulai pelan saat memasuki lorong. Sepatu basahku menjejak genangan. "Jangan mikir yang aneh-aneh, Zela," gumamku pada diri sendiri. Tapi suara itu datang.
"Zela..."
Aku berhenti.
Itu bukan suara angin. Bukan juga suara tetes hujan.
Itu suara perempuan.
Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa.
Tanganku merogoh saku jaket, meraih ponsel untuk menyalakan senter. Tapi layar hanya bergetar lalu mati. Mati total. Padahal tadi masih 40%. Aku menahan napas. Jantung mulai berdetak tak karuan.
"Zela, kamu pulang? Kenapa sendiri?"
Suaranya semakin dekat, seperti bisikan yang menempel di tengkukku. Aku mulai berjalan lebih cepat, menatap ke depan tanpa menoleh. Jangan lari, jangan panik, itu cuma halusinasi...
"Zelaaa..."
Aku menoleh. Dan aku melihatnya.
Seorang perempuan berdiri di ujung lorong, memakai seragam putih abu-abu yang sudah pudar warnanya, rambut panjang menutupi wajah. Bajunya basah kuyup dan meneteskan air... atau darah?
Dia tak bergerak. Tapi aku bisa merasakan matanya menatapku dari balik rambut kusut itu.
Aku mundur.
Lalu dia berjalan maju, pelan, nyaris tak bersuara.
Aku berbalik dan lari.
Langkahku berceceran di lorong basah, dadaku sesak oleh napas yang tersengal. Tapi suara langkahnya mengikutiku, menyatu dengan derik malam yang mengiris.
Ceklek.
Lampu di depan lorong menyala tiba-tiba. Aku berhenti. Sosok itu tak ada.
Aku berdiri di depan gerbang rumahku—aneh, rasanya aku baru setengah jalan tadi. Tapi sekarang aku sudah sampai?
Rumah terlihat gelap, kecuali satu lampu yang menyala di ruang tengah.
Kubuka pintu perlahan.
"Ma..." panggilku.
Tak ada jawaban.
Aku melangkah masuk. Bau anyir menyergap begitu aku membuka pintu. Seperti bau daging busuk dan bunga kamboja basah.
Lampu ruang tengah menyala. Di sana, duduk seseorang—mama.
Tapi dia tidak bergerak. Matanya terbuka lebar, mulutnya menganga seolah hendak berteriak.
Aku mendekat dengan gemetar.
"Mama?"
Tubuhnya dingin. Beku. Dan di bawah kursi... ada genangan darah.
Aku mundur dengan tubuh menggigil. Tapi saat aku hendak lari keluar, pintu sudah tak ada.
Tidak ada pintu.
Yang kulihat hanyalah lorong gelap lagi. Lorong yang sama. Aku kembali berdiri di titik awal.
"Zela..."
Aku menoleh. Sosok perempuan itu berdiri lagi, kali ini lebih dekat. Di wajahnya yang kini terlihat jelas, menganga luka lebar yang memanjang dari pipi ke dagu. Matanya kosong. Mulutnya berdarah.
"Apa salahku... Zela...?"
Aku tak bisa menjawab.
Karena aku tahu siapa dia.
Namanya Anjani. Temanku di SMA. Suatu malam, tiga tahun lalu, kami melewati lorong itu bersama. Tapi aku lari duluan saat dia bilang mendengar suara aneh. Aku meninggalkannya sendirian. Keesokan harinya, dia ditemukan tewas di ujung lorong. Polisi bilang itu kecelakaan. Tapi aku tahu, dia... dipanggil sesuatu dari lorong itu.
Aku menutup wajahku.
"Aku... aku minta maaf, Jan..."
Suaranya terdengar seperti tangis dan tawa yang tercampur.
"Kenapa kamu pulang malam-malam lagi, Zela? Kenapa kamu biarkan aku sendiri?"
Tiba-tiba dunia berputar. Lorong jadi lebih panjang, lebih gelap. Suara tangis dan tawa menyatu dalam gema. Suara langkah kaki, bisikan, suara anak kecil bernyanyi...
Aku mau pulang...
Tapi lorong ini panjang...
Ibuku bilang, jangan pulang kalau sudah senja...
Aku berlutut. Aku menjerit. Tapi suara itu terus berulang.
Dan semuanya gelap.
---
Pagi harinya, warga kampung menemukan seorang gadis berseragam kampus tergolek di ujung lorong, tubuhnya basah kuyup dan wajahnya penuh luka gores. Tak ada identitas. Tapi bibirnya masih berbisik pelan.
"Ma... aku pulang..."


Komentar
Posting Komentar