7. Hujan di Hari Kita Usai
"Hujan di Hari Kita Usai" Aku masih ingat, malam itu terasa sunyi. Bukan karena dunia tiba-tiba sepi, tapi karena di dalam diriku, ada sesuatu yang hancur, tanpa suara. Kami duduk berhadapan, dua manusia yang sama-sama lelah mempertahankan sesuatu yang dulu terasa begitu hangat. “Kayaknya, kita udah nggak bisa lagi ya?” katanya pelan, tapi cukup untuk meruntuhkan dinding yang sudah lama rapuh. Aku hanya mengangguk. Tidak ada air mata yang tumpah, hanya dada yang terasa sesak menahan kata-kata yang tidak sempat terucap. Kami berpisah bukan karena tidak cinta, tapi karena cinta saja ternyata tidak cukup. Kami berdua sama-sama punya luka lama, ego yang tinggi, dan hati yang belum selesai berdamai dengan diri sendiri. Kami mencoba, sungguh, tapi setiap percakapan berakhir dengan saling mempertahankan kebenaran, bukan mencari jalan keluar. Aku tahu, dia belum dewasa secara emosional. Tapi aku pun sama.. aku belum cukup bijak untuk menurunkan gengsi demi keutuhan. Kami seperti dua...




.jpeg)
