6. Saat Kopi Pahit Pun Terasa Manis

 Saat Kopi Pahit Pun Terasa Manis





Empat hari.

Baru empat hari sejak aku kenal dengan Razen. Tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama sekali. Mungkin karena dari hari pertama, dia memang tipikal orang yang mudah membuat suasana terasa nyaman. Humornya receh tapi bikin ketawa, caranya mendengarkan itu tulus, dan yang paling penting, dia nggak pernah bikin aku merasa canggung untuk jadi diri sendiri.

Hari ini hari keempat.

Dan hari ini... kami memutuskan untuk pergi main, first date istilahnya.

"Naura, aku jemput jam setengah 7 ya? Jangan lupa siap-siap," pesan Razen via chat, diiringi dengan stiker lucu bergambar cangkir kopi.

Naura menatap layar ponselnya sambil tersenyum kecil. Setelah beberapa hari saling mengenal lewat obrolan panjang di media sosial, akhirnya Razen mengajak Naura bertemu secara langsung.

"Oke, noted, tuan pecinta kopi." Balas Naura dengan emotikon kopi dan hati.

Razen memang seorang pecinta kopi sejati. Hampir semua jenis kopi pernah ia cicipi, espresso, americano, latte, bahkan kopi single origin dari berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan Naura, ia lebih menyukai minuman manis. Baginya, rasa pahit kopi belum mampu memikat lidahnya.

 

𖧧 𖧧 𖧧

 

Petang itu, sekitar pukul setengah enam, Razen sudah tiba di depan rumah Naura. Motor kuningnya terparkir rapi di pinggir jalan. Sesekali dia membetulkan jaketnya, mengatur napas supaya tidak terlalu gugup. Tangannya sempat berkeringat dingin, meskipun angin malam sebenarnya cukup menenangkan.

"Hai, Naura," sapa Razen dengan senyum hangatnya.

"Hai juga, Razen," balas Naura, sedikit gugup tapi berusaha santai.

Ini bukan sekadar menjemput. Bagi Razen, ini adalah langkah kecil namun penting, bertemu dan meminta izin langsung pada mamah Naura. Sejak pagi, ia sudah mempersiapkan kata-kata, meski tetap saja hatinya berdebar begitu tiba di depan pintu rumah.

Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka. Di ambang pintu, berdirilah sosok perempuan paruh baya dengan senyum ramah. Dialah mamah Naura.

"Assalamualaikum, Tante," ucap Razen sopan sambil sedikit membungkuk.

"Waalaikumsalam. Oh, kamu Razen ya? Silakan masuk, nak," sambut mamah Naura dengan ramah.

Razen melangkah masuk dengan hati-hati. Pandangannya sesekali melirik ke arah Naura yang muncul dari ruang tamu sambil tersenyum malu-malu.

“Jadi, mau pergi sekarang, nak?” tanya mamah Naura.

“Iya, Tante. Mau ajak Naura ngopi sebentar di Kopi Dago. Insya Allah nggak terlalu malam, nanti saya antarkan pulang,” jawab Razen, suaranya tenang namun penuh hormat.

Mamah Naura mengangguk. “Baik. Yang penting hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut, apalagi kamu bawa anak gadis orang.”

Razen mengangguk cepat. “Siap, Tante. Saya jaga baik-baik kok.”

Naura dari tadi hanya bisa tersenyum malu di sudut ruangan, memperhatikan interaksi sederhana tapi manis itu.

Setelah berpamitan, Razen kembali ke motornya dan mengambil helm yang sudah disiapkan. Dengan hati-hati, ia memakaikan helm itu ke kepala Naura, memastikan tali pengaman terpasang dengan pas.

"Udah pas?" tanyanya lembut.

"Udah," jawab Naura pelan.

Motor kuning itu pun melaju perlahan, membelah angin sore menuju Kopi Dago.

 

𖧧 𖧧 𖧧


"Kita sampai," ujarnya.

Sesampainya di Kopi Dago, mereka memilih duduk di area outdoor. Bangku batu panjang yang menghadap ke jalan menjadi tempat mereka berbagi cerita malam itu. Lampu gantung temaram yang menggantung menambah nuansa nyaman dan tenang.

Pelayan datang dan memberikan menu.

"Aku pesenin ya? Kamu mau apa?" tanyanya lembut.

Aku mengangguk. “Aku... hmm... Milkshake Caramel deh,” Pilih Naura sambil tersenyu.

"Saya pesen seperti biasa ya, Matcha Latte. Sama Milkshake Caramelnya satu," kata Razen.

"Terima kasih, yaa..," jawab Naura

Sambil menunggu pesanan, obrolan mereka mulai mengalir pelan.

“Kamu tau nggak, Na,” ucap Razen sambil menatap jalanan di depannya, “motor kuning itu... dapetinnya nggak gampang.”

Naura menoleh, tertarik dengan cerita itu. “Oh ya? Ceritain dong.”

Razen mengangguk pelan, tangannya sambil memainkan kunci motor yang tergeletak diatas meja.

“Jadi, waktu aku masih SMK kelas 11, aku sempat banget pengen motor kuning ini. Dulu bokap cuma bilang, ‘Kalau nilai IPA kamu, Fisika, Biologi, sama Kimia, semuanya bisa tembus minimal 80, nanti Ayah beliin motor impianmu.’

Naura mendengarkan serius.

“Awalnya kupikir gampang, ternyata enggak, Na. Apalagi fisika... aduh. Aku sampe bela-belain ikut les tambahan, belajar tiap malam, apalagi kalau udah deket ujian. Kadang kayak zombie, mata udah merah, otak udah panas.”

Ia tertawa kecil mengingat perjuangannya.

“Pas hasil keluar, nilai Biologi 84, Kimia 83, dan Fisika... 80 pas banget. Udah kayak drama skor terakhir.” Ia menatap Naura sambil tersenyum bangga.

“Akhirnya, beneran dikasih motor ini sama bokap. Makanya aku sayang banget sama si Rylexs 15 kuning ini. Setiap kali bawa, selalu inget perjuangan di belakangnya.”

Naura ikut tersenyum haru. “Pantes kamu jaga banget motornya. Itu bukan sekadar motor ya, tapi bukti usaha kamu.”

Razen hanya mengangguk kecil, matanya tetap menatap lembut ke arah Naura.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Aroma kopi yang khas memenuhi udara. Razen langsung menyeruput Matcha Latte-nya.

"Wah, ini Matcha Latte di sini nggak pernah gagal. Lembut, manisnya pas, dan tetap ada hint pahit khas matcha," ujarnya antusias.

Naura mencicipi Milkshake Caramel-nya. "Hmm… enak juga ya. Manisnya nggak lebay, caramel-nya nge-blend banget."

Mereka mulai larut dalam obrolan hangat, mulai dari film favorit, buku bacaan, sampai mimpi-mimpi mereka.

"Aku selalu penasaran, kenapa kamu bisa secinta itu sama kopi?" tanya Naura.

Razen tertawa kecil. "Kopi itu… semacam filosofi hidup buat aku. Kopi itu pahit, iya. Tapi di balik pahitnya, ada rasa-rasa lain yang bisa kita nikmati, kayak manis, asam, atau aroma yang khas. Sama kayak hidup. Kadang ada masa pahit, tapi pasti selalu ada sisi manis yang menyertainya."

Naura terdiam sejenak, merenungkan kalimat itu. "Kamu benar juga. Aku selama ini cuma fokus ke rasa pahitnya doang, jadi nggak pernah bisa nikmatin."

"Nah, makanya kadang kita butuh orang lain buat ngenalin sisi manis dari sesuatu yang selama ini kita anggap nggak enak," tambah Razen, menatap mata Naura dengan lembut.

Naura merasa pipinya memanas. Obrolan ringan itu perlahan berubah menjadi kehangatan yang menenangkan.

Malam semakin turun, namun suasana di Kopi Dago tetap syahdu. Lampu-lampu gantung mulai menyala, memberikan nuansa romantis. Beberapa pengunjung lain juga terlihat asyik mengobrol.

"Aku nyaman banget ngobrol sama kamu, Razen," ucap Naura sambil mengaduk milkshake-nya.

"Aku juga. Rasanya kayak ngobrol sama temen lama yang udah lama banget nggak ketemu."

Naura tersenyum kecil. "Padahal baru juga ketemu hari ini ya."

"Tapi vibe-nya beda. Kamu itu… kayak caramel di milkshake kamu. Manis, lembut, dan bikin nagih." Ujar Razen dengan suara rendah.

Naura tertawa pelan. "Ih, gombal."

"Serius, Naura. Aku tuh seneng banget bisa kenal kamu."


𖧧 𖧧 𖧧

 

Setelah puas tertawa dengan berbagai cerita lucu masa kecil, Naura sempat mengeluh soal tugas Word-nya yang sempat bikin pusing.

“Tadi siang aku pusing banget gara-gara daftar isi, Zen,” ucap Naura sambil mengernyit, mengingat perjuangannya.

Razen tersenyum pelan. “Emang udah bikin sub bab belum?”

“Awalnya belum... eh terus aku baru nyadar pas kamu bilang di chat,” jawab Naura sambil terkekeh kecil.

Razen mencondongkan badannya sedikit, memperhatikan layar laptop Naura yang sudah dibuka. “Jadi kalau mau muncul titik-titik otomatis di daftar isi, harus pakai heading atau sub bab dulu. Heading itu kayak penanda judul tiap bagian, nanti sistemnya otomatis bikin garis titik-titik ke nomor halaman.”

Suaranya pelan, lembut, tapi jelas banget ngajarin.

Naura mengangguk-angguk sambil langsung mengotak-atik Word-nya sendiri. Tangannya cekatan mengikuti penjelasan Razen.

“Nahhh, tuh kan... bisa, kan?” kata Razen setelah melihat hasilnya muncul rapi.

Ia lalu tersenyum, mengelus kepala Naura dengan lembut.
“Tuhkan, kamu pinter banget sih...” bisiknya manis.

Naura hanya bisa nyengir malu. Rasanya hangat, bukan karena suasana café, tapi karena sikap Razen yang penuh perhatian.

Lalu, dengan suara lebih lembut, Razen kembali mengingatkan, “Kan aku bilang… jangan terlalu ngepush diri kamu. Kamu udah ngehabisin energi banyak buat belajar, teman, tugas-tugas kamu, Naura.”

Naura mengangguk kecil, kali ini matanya menatap penuh rasa nyaman. “Iyaa, makasih ya, Zen…”

Setelah itu, pembicaraan kembali random dan menyenangkan. Kadang dia bisa sangat dewasa saat menasihati, kadang jadi kayak anak kecil minta dipuji.

Di tengah obrolan, tiba-tiba dia bertanya pelan.

"Naura, kamu nyaman kan sama aku?"

Pertanyaannya sederhana, tapi maknanya dalam.

Aku menatap matanya beberapa detik sebelum menjawab, "Nyaman banget, kok. Kamu tuh... bikin aku ngerasa tenang. Kayak... kopi yang katanya pahit, tapi karena tempat, suasana, sama orangnya cocok, rasanya jadi manis."

Dia diam sesaat. Matanya berkilat.

"Kalau gitu... boleh nggak aku jadi alasan kenapa kopi pahit pun terasa manis buat kamu?"

Hening sejenak. Pipiku panas. Aku hanya mengangguk kecil.

 

𖧧 𖧧 𖧧

 

Malam makin larut, gelas mereka sudah berkurang isinya. Suasana di Kopi Dago tetap hangat ditemani semilir angin malam. Lampu-lampu kecil di atas kepala mereka berpendar pelan, seolah ikut menyaksikan percakapan yang mulai terasa lebih dalam.

Sambil memutar sendok kecil di gelasnya, Razen menatap minuman miliknya, kemudian menoleh ke arah Naura.

"Tau nggak, Na," ucap Razen pelan, suaranya agak dalam, "sebenarnya aku tuh nggak selalu suka sama kopi yang manis."

Naura menatapnya penasaran. "Hmm? Bukannya tadi kamu pesen matcha latte?"

Razen tersenyum tipis. "Iya, itu pilihan manis hari ini. Tapi... kopi itu kan identik sama rasa pahit. Awalnya aku minum kopi cuma buat begadang, buat belajar, buat ngejar nilai biar bisa dapetin motor kuning itu," ia terkekeh kecil, menatap motor kebanggaannya di kejauhan.

"Tapi lama-lama, aku sadar... meskipun pahit, rasanya tuh justru bikin aku bertahan."

Naura memperhatikan dengan mata berbinar. "Kayak... kopi itu ngajarin kamu ya?"

"Iya. Sama kayak hidup, Na." Razen menatap Naura lebih dalam.

"Kadang rasanya pahit, kadang bikin nyerah. Tapi, kalau dijalani bareng orang yang tepat… pahitnya justru terasa manis."

Ia diam sebentar, lalu menambahkan dengan suara sedikit bergetar, "Kayak malam ini. Mungkin kopiku masih pahit, tapi ada kamu di sini… bikin semuanya manis."

Naura terdiam, pipinya mulai memanas, dan tak bisa menahan senyumnya.

"Razen... itu manis banget," ucapnya pelan sambil menunduk malu.

Razen hanya tertawa kecil, "Tuh kan, malah kamu yang jadi lebih manis daripada milkshake caramel kamu."

Mereka tertawa bersama. Obrolan itu sederhana, tapi di balik kata-kata mereka tersimpan benih-benih rasa yang mulai tumbuh.

 

𖧧 𖧧 𖧧

 

Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa, malam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Pelayan café pun sudah mulai beres-beres.

"Udah malam ya," ucap Naura pelan.

Razen buru-buru berdiri, “Ya ampun, aku sampai bikin kamu pulang malam.”

"Ngga papa kok, kita asik ngobrol banget."

Seperti sebelumnya, Razen kembali memakaikan helm ke kepala Naura. Gestur kecil yang membuat hati Naura hangat.

Dalam perjalanan pulang, Naura memeluk pinggang Razen sedikit lebih erat, mengunci momen itu dalam memorinya.

Begitu tiba di depan rumah, Razen dengan sigap turun duluan, lalu membukakan pengait helm Naura.

Sebelum pulang, Razen kembali mengetuk pintu rumah, menemui mamah Naura sekali lagi.

“Maaf ya Tante, pulangnya agak malam. Tadi keasyikan ngobrol.”

Mamah Naura tersenyum hangat. “Nggak apa-apa, nak. Hati-hati di jalan ya.”

Setelah berpamitan, Razen kembali menatap Naura. Tatapan penuh kehangatan, bercampur perasaan yang mulai tumbuh.

“Next time kita main lagi ya?” ucapnya pelan.

Naura tersenyum manis, “Next time, Razen.”

Motor kuning itu kembali melaju, meninggalkan jejak manis dari first date yang perlahan menumbuhkan cerita indah di antara mereka.

 

Kadang, yang bikin manis bukan gulanya, tapi siapa yang duduk menemani di seberang meja, saat kopi yang pahit pun terasa manis.

Komentar

Postingan Populer