Page 2
Rona di Balik Luka
Oleh: Raaishlora
Hujan baru saja reda. Butiran air masih menggantung di ujung dedaunan, memantulkan cahaya sore yang lembut. Udara terasa segar, bercampur aroma tanah basah yang khas. Di bawah pohon flamboyan di halaman sekolah, seorang gadis duduk diam, memeluk lututnya sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga.
Namanya Liora. Ia bukan gadis yang merasa istimewa. Sejak kecil, ada luka di wajahnya—bekas kecelakaan yang tidak bisa dihapus waktu. Orang-orang sering menatapnya dengan rasa ingin tahu, beberapa dengan simpati, dan sebagian lagi dengan kasihan.
Tatapan itu yang membuatnya ingin bersembunyi.
"Liora," panggil seseorang.
Liora menoleh. Aisal, satu-satunya teman yang selalu bersikap biasa di hadapannya, menghampiri dengan buku di tangannya.
"Kamu kenapa duduk di sini sendirian?" tanyanya, duduk di sebelah Liora tanpa ragu.
Liora menghela napas, menunduk menatap bayangannya sendiri di genangan air. "Terkadang aku berpikir, bagaimana rasanya menjadi orang lain? Menjadi seseorang yang… normal."
Aisal terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Menurutmu, apa itu normal?"
Liora mengangkat bahu. "Mungkin… seseorang yang tidak perlu menunduk ketika berjalan. Yang tidak perlu menghindari cermin atau takut dilihat orang lain."
Aisal mengangguk pelan. "Aku juga pernah berpikir seperti itu."
Liora menatapnya, menunggu lanjutan kata-katanya.
"Aku pernah membenci suaraku," kata Aisal pelan. "Aku lahir dengan pita suara yang tidak sempurna. Suaraku serak, tidak sejernih orang lain. Saat masih kecil, aku sering diejek. Aku takut berbicara di depan kelas, takut jika orang lain menertawakan suara yang berbeda ini."
Liora terdiam. Ia tidak pernah tahu soal itu.
"Tapi suatu hari," lanjut Aisal, "aku membaca kalimat yang mengubah cara pandangku."
Liora mengernyit. "Apa itu?"
"Kita bukan karya yang gagal. Kita adalah lukisan yang berbeda."
Liora menatap Aisal lekat-lekat.
"Kamu tahu, Liora?" lanjut Aisal. "Aku selalu berpikir kalau dunia ini seperti kanvas raksasa. Ada bagian yang gelap, ada yang terang. Ada garis yang lurus, ada pula yang berliku. Tapi semuanya punya tempatnya sendiri. Kalau semuanya sama, di mana keindahannya?"
Liora menunduk, jari-jarinya mencengkeram ujung rok seragamnya.
"Bekas luka di wajahmu bukan sesuatu yang harus kamu sembunyikan," kata Aisal lembut. "Itu bagian dari perjalananmu. Bukti bahwa kamu masih ada, masih bertahan, masih melangkah."
Liora terdiam. Ia mengingat setiap tatapan yang pernah ia terima, setiap kali ia menunduk, setiap kali ia menghindari refleksi dirinya sendiri. Tapi sekarang, entah mengapa, kata-kata Aisal membuat semua itu terasa lebih ringan.
"Aku ingin bisa sepertimu," gumam Liora.
Aisal tertawa kecil. "Aku pun masih belajar. Tapi satu hal yang aku yakini, Liora. Tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Kita semua memiliki sesuatu yang ingin kita sembunyikan, tapi itu bukan berarti kita tidak berharga."
Liora menggigit bibirnya, menatap langit yang perlahan berubah warna. "Tapi orang-orang tetap menilai dari apa yang mereka lihat."
"Mungkin," Aisal mengangguk. "Tapi orang yang benar-benar peduli akan melihat lebih dari sekadar permukaan."
Liora menghela napas panjang. "Terkadang aku iri dengan orang lain. Aku ingin bisa tertawa lepas tanpa harus khawatir dengan tatapan orang. Aku ingin bisa percaya diri tanpa merasa cemas setiap saat."
Aisal tersenyum. "Mungkin, kita tidak bisa mengubah bagaimana orang lain melihat kita. Tapi kita bisa mengubah bagaimana kita melihat diri sendiri."
Liora terdiam. Kata-kata itu meresap dalam dirinya.
"Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan terus-menerus," lanjutnya pelan.
Aisal mengangguk penuh keyakinan. "Mulai sekarang, cobalah untuk melihat dirimu dengan cara yang berbeda. Jangan biarkan dunia yang menentukan nilaimu."
Mereka terdiam, menikmati sisa sore yang perlahan beranjak malam.
Esoknya, di sekolah, Liora melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mengikat rambutnya ke belakang, membiarkan wajahnya terlihat sepenuhnya. Tidak lagi tertutup poni panjang yang biasa ia gunakan untuk menyembunyikan luka itu.
Beberapa teman memperhatikannya, beberapa berbisik-bisik. Tapi Liora tidak menundukkan kepala.
Di antara mereka, ada Aisal yang tersenyum lebar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Liora tersenyum tanpa merasa takut.
Pesan Moral
Ketidaksempurnaan bukanlah cacat, melainkan bagian dari keindahan yang membuat setiap manusia unik. Kita bukan karya yang gagal, melainkan lukisan yang berbeda—dan itu bukan sesuatu yang harus disesali.
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar