Page 3

 

Langit Tak Pernah Bertanya Mengapa Aku Menangis

Oleh: Raaishlora

 



Langit senja masih menyisakan warna jingga yang seperti baru saja dicampur air mata. Awan-awan membentuk siluet tak tentu arah, seakan sedang mencari sesuatu yang hilang. Di bawahnya, di sebuah taman kecil dekat SMA Arwana Cendekia, duduk seorang gadis. Buku tulis terpeluk di dadanya, seperti perisai yang ia pakai agar kesedihan tak terlalu telanjang.

Namanya Rania Valeska. Seorang gadis dengan senyum hemat, langkah pelan, dan mata yang tak pernah benar-benar memandang siapa pun. Ia menyukai langit, karena langit tidak pernah bertanya kenapa ia murung. Langit hanya hadir, dan diam. Seperti seseorang yang ia kenal—atau tepatnya, pernah kenal.

Hidup Rania bukan cerita tentang pelangi setelah hujan. Ia adalah hujan yang tak tahu kapan akan reda. Sejak kecil, rumahnya hanya berisi keheningan dan suara berita dari televisi tua. Ayahnya pergi saat ia masih balita. Ibunya bekerja dua shift di rumah sakit. Tak ada waktu untuk pelukan, apalagi dongeng pengantar tidur. Yang ia punya hanyalah dirinya sendiri dan buku tulis yang penuh puisi, kutipan, dan doa-doa lirih yang tak pernah dijawab.

Segalanya berubah saat ia duduk di bangku kelas sebelas, saat langit memperkenalkannya pada Zayden Athaillah.

Zayden seperti seseorang yang datang dari dunia yang tak terbiasa dengan keheningan. Langkahnya ringan, suaranya kadang terlalu lantang, tapi tatapannya jujur dan tak menghakimi. Ia duduk di belakang Rania, sering menyelipkan catatan kecil di bukunya: gambar awan, puisi pendek, atau sekadar kalimat, “Langit hari ini cerah. Kamu gimana?”

Awalnya, Rania tak menggubris. Tapi hari demi hari, catatan itu menjadi kebiasaan. Bahkan saat tak ada satu pun kata yang diucap di antara mereka, kehadiran Zayden seperti menggeser dinding sunyi di hati Rania.

Suatu hari, saat hujan turun deras dan kelas hampir kosong, Zayden duduk di sebelahnya.

"Aku suka diam kamu," katanya tiba-tiba, menatap hujan dari balik jendela.
"Tapi kadang... aku kepikiran, diam kamu tuh diam yang nyaman, atau diam yang sedang nyakitin diri sendiri?"

Pertanyaan itu menampar lembut. Rania menggigit bibir. Hatinya seperti terurai perlahan, tapi belum siap untuk jatuh.

"Aku nggak tahu cara cerita," bisiknya lirih. "Tapi aku capek."

Dan sejak saat itu, mereka jadi dua orang yang sering pulang bareng. Kadang ke taman, kadang ke toko buku bekas, kadang hanya berjalan kaki menyusuri gang sepi tanpa banyak kata. Rania menemukan tempat pulang di dalam tawa Zayden. Dan Zayden, entah mengapa, merasa damai saat Rania hanya duduk diam di sebelahnya.

"Kamu tahu nggak, Ran?" kata Zayden suatu malam lewat pesan suara.
"Kita tuh seperti dua langit berbeda. Tapi kita sama-sama nyimpen mendung."

Waktu terus berjalan. Rania mulai terbuka. Ia menulis puisi, kali ini bukan tentang kesedihan, tapi tentang harapan kecil. Tentang seseorang yang mengajarinya untuk merasa layak dicintai. Ia bahkan menuliskan satu puisi khusus:

"Aku ingin menetap di hatimu, bukan sebagai tanya. Tapi sebagai jawab yang kau jaga."

Zayden membacanya, lalu tersenyum kecil. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi sejak hari itu, ia lebih sering menyentuh bahu Rania pelan saat lewat. Seolah berkata, “Aku ngerti.”

Namun, tak ada yang benar-benar abadi di dunia yang tak menunggu.

Suatu pagi, Zayden tidak datang ke sekolah. Rania menunggu. Di kelas. Di taman. Bahkan di warung langganan mereka. Tapi yang datang hanya angin.

Hari kedua, ia menghilang. Hari ketiga, masih tak ada kabar.

Hari kelima, Rania memberanikan diri menelepon. Tapi yang menjawab bukan Zayden, melainkan suara perempuan dengan nada bergetar: “Kamu temannya Zayden, ya? Maaf, Nak... Zayden... Zayden sudah nggak ada.”

Dunia runtuh. Seperti gunung es yang retak tanpa suara, tapi ambruk seutuhnya di dasar jiwa.

Zayden meninggal dalam kecelakaan motor saat sedang dalam perjalanan pulang mengambil buku catatannya. Buku itu, katanya, akan ia berikan ke Rania. Buku berisi kumpulan puisi dan catatan kecil yang selama ini ia tulis diam-diam.

Pemakamannya sunyi. Hujan turun pelan. Rania berdiri beberapa langkah dari nisan, memegang surat yang ia tulis malam sebelumnya, tapi tak pernah sempat diberikan.

Ia tidak menangis di sana. Air mata seakan takut jatuh di tempat yang salah.

Hari-hari setelahnya seperti dunia tanpa musik. Rania kembali ke bangku taman. Duduk sendiri. Tapi kali ini, buku catatannya penuh halaman kosong.

Sampai suatu sore, ibunda Zayden datang ke sekolah. Membawa sesuatu. Buku itu, yang sempat Zayden ambil sebelum kecelakaan. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang familiar.

"Untuk Rania Valeska, Yang membuat diam jadi bahasa paling jujur. Kalau aku nggak sempat bilang... Terima kasih sudah jadi tempat aku pulang. Kamu pantas bahagia. Bukan karena aku, tapi karena kamu kuat walau berkeping." —Zayden Athaillah

Saat itu, air mata Rania akhirnya jatuh. Pelan, seperti hujan pertama di musim kemarau. Bukan karena sedih, tapi karena rindu yang tak bisa disampaikan lewat kata.

Ia menulis kembali. Kali ini tentang kehilangan yang memeluknya, bukan menyakitinya. Tentang Zayden, yang tak sempat mengucap selamat tinggal, tapi meninggalkan cinta yang tidak usang.

Tahun-tahun berlalu.

Rania kini duduk di bangku kuliah, mengambil jurusan Sastra. Ia menulis puisi, cerpen, bahkan menerbitkan buku kecil. Salah satu puisinya menjadi sangat dikenal.

"Langit tak pernah bertanya kenapa aku menangis, Tapi langit juga yang paling mengerti kenapa aku bertahan."

Dan tiap tanggal kepergian Zayden, Rania selalu duduk di taman kecil itu. Dengan buku catatan, secangkir teh, dan seikat bunga matahari.

Ia tahu, mungkin Zayden tidak melihatnya lagi. Tapi ia percaya, cinta yang tulus tak pernah benar-benar hilang. Ia tinggal, menetap, lalu tumbuh di tempat-tempat tak terduga.

"Aku bahagia, Zayden," gumamnya pada langit. "Karena kamu pernah jadi bagian dari hidupku... yang sunyinya kini bersuara."

Komentar

Postingan Populer