Page 4

 

Arah Pulang

Oleh : Raaishlora




Di suatu pagi yang biasa, kampus ini terasa sedikit berbeda. Udara yang dingin menggigit, dan langit yang biasanya cerah kini diselimuti awan kelabu. Di tengah keramaian gedung kampus, Elghazi Kareem berjalan menuju ruang organisasi. Langkahnya biasa, tanpa terburu-buru. Tapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya: kenapa hari ini terasa sedikit hampa?

Ketika ia memasuki ruang organisasi, suara tawa riuh menyambutnya. Namun, di antara semua itu, matanya justru tertuju pada satu sosok. Lyana Azureen. Gadis dengan rambut ikal yang selalu berkibar tertiup angin, dan senyum yang selalu menghidupkan suasana. Tapi hari ini, Lyana berbeda. Ia tidak seperti biasanya yang penuh semangat, tak ada suara cerianya yang memenuhi ruangan. Ia duduk di sudut, menatap layar laptop dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya menghilang.

“Eh, Gazi, kamu nggak bosen ya di sini? Lihat, nih! Ada meme lucu banget. Ini harus kamu lihat!” suara Lyana yang biasa penuh semangat tiba-tiba terdengar dari meja di seberang, membuat Gazi terkejut.

Gazi menoleh dan tertawa kecil. “Pasti ada aja kamu, Lyana.”

Lyana mengerutkan kening dan mendekat ke meja Gazi dengan langkah cepat. “Ayo, aku tunjukin. Ini bener-bener bisa bikin kamu ketawa sampe lupa tugas yang numpuk itu! Gila banget deh!”

Tawa riuh terdengar di ruang organisasi. Lyana memang selalu bisa membuat suasana menjadi hidup, dan Gazi tak bisa menahan senyum melihatnya.

“Lyana, kamu memang nggak pernah gagal bikin aku ketawa,” ujar Gazi, meski tak bisa menutupi perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar tawa itu.

Hari-hari setelahnya, suasana ruang organisasi tetap seperti biasa, tapi perasaan Gazi tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata. Lyana tetap hadir, namun entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali Lyana tak hadir, Gazi merasa ruang itu lebih sepi, lebih hampa. Seperti langit yang kehilangan bintang.

Suatu hari, saat rapat berakhir, Lyana mendekat ke meja Gazi dengan wajah yang tidak biasa. Wajahnya lebih pucat, senyumnya sedikit dipaksakan.

“Ada apa, Lyana?” tanya Gazi, mencoba mencari tahu.

Lyana menghela napas panjang, lalu duduk di kursi sebelahnya. “Gazi, aku nggak tahu harus mulai dari mana… Ayah aku sakit, dan aku harus pulang.”

Gazi terdiam, ada sesuatu yang mengganjal di dada. Ia baru menyadari betapa pedulinya ia terhadap Lyana. Kenapa baru sekarang ia tahu bahwa ada hal besar yang terjadi dalam hidupnya? Mengapa ia merasa ada ruang kosong yang tak pernah ia sadari?

---

Hari-hari setelah itu, Lyana menghilang. Ia tidak hadir di rapat, tidak ada pesan atau kabar darinya. Gazi merasa ada yang hilang. Setiap kali ia datang ke ruang organisasi, matanya mencari Lyana, seperti pencari yang kehilangan arah. Tiba-tiba, dunia di sekitar Gazi terasa lebih gelap. Ia tidak tahu harus mencari siapa, karena Lyana adalah orang yang selalu ada dalam pikirannya.

Suatu malam, hujan turun begitu deras. Gazi berjalan melewati aula kampus yang kosong. Suara hujan yang menenangkan tiba-tiba berubah menjadi gemuruh di dalam hatinya. Langkahnya berhenti saat ia melihat sosok familiar berdiri di ujung lorong.

“Lyana?” tanya Gazi, terkejut.

Lyana menoleh, matanya merah. “Aku baru balik dari kampung. Ayahku… sudah nggak apa-apa sekarang.”

Gazi merasa lega mendengar itu. Tapi ada perasaan yang lebih besar menyelimuti dirinya. Kenapa rasanya seperti menemukan bagian yang hilang? Mengapa ia merasa ada ruang kosong yang tak pernah ia sadari?

“Kenapa nggak kasih tahu kalau ada masalah? Kamu bisa cerita, lho,” ujar Gazi, hampir dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.

Lyana tersenyum, meski tampak sedikit berat. “Karena kalau aku cerita, kamu pasti bakal bingung. Aku nggak mau nambah beban.”

Gazi hanya bisa menatapnya. Di sana, di hadapannya, ada seseorang yang selama ini ia anggap biasa, tapi tiba-tiba saja, ia merasa seperti ada magnet yang menariknya lebih dekat. Seperti langit yang menyatu dengan bumi, namun tak pernah bisa saling menyentuh.

“Kalau nggak ada beban, kita bisa kok ngerjainnya bareng. Kamu tau nggak, Gazi? Aku tuh seharusnya jadi dokter, tau! Cuma sayangnya, nggak ada jurusan yang ngasih kelas buat nangis seharian, jadi aku cuma bisa jadi cewek cerewet di sini,” ujar Lyana, melongo tanpa merasa bersalah.

Gazi hanya bisa tertawa kecil. “Itu sih bukan cerewet, Lyana. Itu semangat yang nggak bisa ditahan.”

---

Waktu berjalan, dan Lyana kembali ke kampus dengan lebih banyak senyum. Namun, Gazi merasa ada sesuatu yang belum selesai. Rasa yang tak terucapkan, yang tumbuh diam-diam di dalam hatinya. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran Lyana bukan hanya sebuah kebiasaan. Lyana lebih dari itu. Ia adalah arah pulang yang selama ini tak pernah ia sadari.

Pada suatu sore, ketika mereka berdua duduk di taman kampus setelah rapat organisasi, Gazi menatap Lyana yang sedang tertawa ceria, seperti tidak ada masalah yang pernah menghantuinya.

“Lyana…” Gazi memulai, suaranya sedikit gemetar. “Kamu tahu nggak rasanya kalau… kamu tiba-tiba merasa ada yang hilang?”

Lyana menoleh, tersenyum kecil. “Apa maksudnya?”

“Rasanya seperti rumah yang tak pernah tahu kalau kamu selalu pulang, sampai akhirnya kamu sadar, rumah itu selalu ada di sini. Di dekatmu.”

Lyana terdiam, matanya berbinar seolah memahami apa yang Gazi coba sampaikan.

“Gazi,” katanya pelan, “Kalau kamu merasa seperti itu, kenapa nggak bilang? Kita ini sama-sama, kok. Aku juga merasa begitu.”

---

Beberapa minggu setelah pernyataan hati itu, Gazi dan Lyana semakin dekat. Namun, ada satu hal yang belum Gazi ungkapkan. Bagaimana ia merasa seperti menemukan rumah yang terlupakan, dan rumah itu adalah Lyana. Setiap kali ia melihat Lyana tersenyum, hatinya terasa lebih damai, seolah semua beban yang selama ini ia pikul terasa lebih ringan.

Hujan turun lagi malam itu, dan mereka berdua duduk di bangku taman yang sama. Gazi akhirnya mengungkapkan apa yang selama ini ia simpan di dalam hatinya.

“Lyana… Aku sadar sekarang. Kamu adalah arah pulangku yang tak pernah aku sadari.”

Lyana menatapnya dengan mata yang penuh perasaan. “Dan kamu adalah rumahku yang selama ini aku cari-cari.”

Di tengah hujan yang deras, di bawah langit yang berwarna kelabu, mereka berdua akhirnya tahu. Arah pulang itu bukanlah tempat yang jauh, bukan rumah yang jauh dari jangkauan. Tapi, justru ada di sebelah mereka. Di dalam hati mereka yang sudah lama saling mencari.

 

"Ia terlalu ribut untuk diam-diam kurindukan. Tapi nyatanya, justru suaranya yang paling sering aku cari di kepala."
Elghazi Kareem


"Aku pikir, aku hanya suka berdebat. Ternyata aku cuma nggak mau kehilangan alasan untuk ngobrol sama dia tiap hari."
Lyana Azureen

 

 

Komentar

Postingan Populer